Kisah Sukses Pengusaha Singkong, Pendapatan Sampai 200 Juta Per Bulan

Kisah sukses ini berawal dari seorang bernama Puji Gawil (24) sudah mampu menghasilkan uang sendiri dengan membangun usaha keripik beling sejak tahun 2012 lalu. Dari usahanya itu ia mampu membiayai uang kuliah dari penghasilannya sendiri. Bahkan, masih ada sisa yang dapat digunakan untuk membiayai rencana orang tua pergi haji.

Kripik Beling

Sumber: Dokumentasi pribadi

“Saya pilih berusaha karena memang mau meringankan beban orang tua untuk membiayai kuliah. Hasilnya bukan hanya meringankan, tapi sekarang biaya kuliah saya sepenuhnya sudah dari kantong sendiri. Sukur-sukur bisa kekumpul untuk ongkos orang tua pergi haji, sekarang sedang nabung untuk itu,” katanya.

Kisah sukses dari pria berdarah asli Sunda ini mengaku terinspirasi membuat keripik beling ketika melihat pecahan kaca di jalan. Kebetulan waktu itu ia sedang makan keripik singkong yang dijual eceran dengan gerobak dorong. Akhrinya ia mencoba membuat keripik dengan potongan setipis mungkin dan diberi bumbu.

“Jelas ide ini tidak murni datang dari saya, karena keripik merupakan makanan kampung tradisional berbahan singkong yang dapat ditemukan di mana saja. Tapi biasanya terlalu tebal ukurannya. Karena saya waktu itu melihat beling, kenapa tidak dicoba potong setipis mungkin sampai warnanya bisa betul-betul transparan seperi beling,” ujarnya.

Gawil menjelaskan eksperimen selanjutanya hanya masalah bumbu. Biasanya, keripik disediakan dalam rasa manis, asin, dan pedas saja. “Sederhana saja karena saya tidak mau repot saya campur semua rasa itu jadi satu. Sebetulnya masih biasa saja juga, tapi ternyata banyak yang suka. Tapi sekarang kita punya inovasi, kripik rasa jeruk nipis,” tuturnya.

Kisah sukses

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gawil mengatakan modal awal usaha ini membutuhkan anggaran sebesar Rp 15 juta. Sejumlah uang itu ia kumpulkan bersama seorang kakaknya dalam beberapa bulan. Juga sedikit tambahan dari hasil jualan cireng.

“Sebetulnya saya juga usaha cireng bersama kakak. Dari hasil keuntungan itu kita kumpulkan digabung dengan uang tabungan masing-masing. Setelah terkumpul, kita mau usaha yang lebih serius yaitu kripik beling ini,” katanya.

Kripik Beling, Puji Gawil (kiri) dan kakaknya.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Pria kelahiran semester akhir di salah satu perguruan tinggi Jakarta Selatan ini mengaku omzetnya sudah mencapai sekitar Rp 200 juta per bulan. Pasalnya ia bisa menjual 50 kardus kripik beling sehari. Sedangkan harga setiap kardusnya ia membandrol senilai Rp 150 ribu.

“Sehari saya bisa dapat penghasilan kotor sampai Rp 7,5 juta. Kalau sebulan kira-kira lebih dari Rp 200 juta. Selisih keuntungannya memang kecil, sekitar dua puluh persen saja,” tuturnya.

Kisah sukses dari sistmen kepelangganan Gawil berangkat dari pemilik toko-toko grosir seantero Kota Bogor. Sebagiannya juga sudah dikirim ke wilayah Jabodetabek. Ke depan ia berharap bisa ekspansi pasar sampai luar Pulau Jawa.

“Mulai dari wilayah Bogor Kota sampai Bogor Kabupaten dan Sukabumi kita yang suplai toko grosirnya. Bahkan wilayah Jabodetak lainnya juga sudah masuk. Semoga dua atau tiga tahun ke depan kita sudah bisa kuasai pasar Jawa supaya bisa masuk ke pasar luar Pulau Jawa dan Nasional,” ujarnya.
Sebagai pengusaha Gawil memegang prinsip jangan takut gagal. Pasalnya untuk mencapai kemampuan membuat produk yang disukai mayasrakat harus sering melakukan percobaan. Semakin sering mengalami kegagalan, maka semakin dekat menuju kesuksesan.

“Karena sering gagal maka kita jadi lebih kuat baik secara mental maupun pengetahuan akan masalah itu. Dengan kedua modal tersebut kita bisa menentukan rencana ke depan yang lebih baik. Dalam berusaha saya punya prinsip, laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang handal. Makanya, pelaut ulung itu berlayarnya di wilayah yang berbahaya,” tuturnya.

Gawil mengaku kisah sukses strategi promosi usahanya masih berjalan dari mulut ke mulur. Upaya ini dinilai lebih efektif untuk memasarkan produknya. Bahkan pada awalnya ia harus berjalan door to door ke setiap toko grosir di Kota Bogor.

“Saat ini kita masih pasarkan produknya dari mulut ke mulut dan door to door kepada toko grosir. Ternyata dengan mendekati pemilik toko grosir, mereka juga ikut menyampaikan kepada pedagang grosir lainnya. Hasilnya, strategi ini bisa terdengar juga oleh pemilik toko grosir di Jakarta,” ujarnya.

Gawil menambahkan sebagai pengusaha juga tidak boleh malu bertanya untuk mencapai pengetahuan yang lebih baik. “Untuk mengembangkan inovasi, sampai sekarang saya masih suka tanya sama pelanggan apa kekurangan produk kita. Juga bertanya pada pengusaha lain bagaiaman mengembangkan pasar ini,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *