Merasakan Manisnya Usaha Produksi Bubuk Minuman, Kisah Sukses!

Muhammad Syakir telah membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan untuk belajar bisa membawa kesuksesan. Sekarang ia menjadi produksi bubuk minuman setelah bertahun-tahun mengenyam dunia kewartawanan. Jadi, keinginan untuk memiliki usaha secara mandiri bukan hal yang mustahil.

Produksi Bubuk Minuman

Sumber: Kompas.com

“Awalnya saya bekerja sebagai pewarta foto di sebuah media cetak nasional. Tapi saya punya keinginan untuk mandiri dengan membangun suatu usaha. Akhirnya saya berhasil membuat sentra produksi bubuk minuman dengan brand Jakarta Powder Drink pada awal tahun 2013,” katanya.

Syakir mengatakan ide awal memembangun usaha itu tersebut ketika sempat menjalani usaha minuman bubble di minimarket pada tahun 2010. Dalam dua bulan pertama usaha itu sudah bisa balik modal. Melihat peluang itu ia terus berinovasi dengan menjalin kemitraan usaha melalui sebuah website.

“Ternyata dari website itu saya mendapat tawaran dari produsen minuman. Mereka minta saya jadi distributor bahan baku bubuk minuman.Ternyata usaha ini juga terus berkembang dan saya sempat join dengan teman lama untuk memperlebar peluang. Akhirnya kami pernah menjadi distributor tunggal untuk bubuk minuman di Makassar,” katanya.

Pria dengan dunia anak ini mengatakan pada tahun 2012 terpaksa usaha distributor itu ditinggalkan. Karena ia mendapat pengalaman pahit.  Ternyata teman lamanya berkhianat dengan memainkan pasar seorang diri.

“Teman saya kalau dapat order pesanan tenyata dikerjakan sendiri. Dia tidak ambil bubuk powder milik kami. Kejadian itu terus berlangsung selama lima bulan. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti di usaha itu,” ujarnya.

Belajar dari pengkhianatan itu Syakir  menyadari ada masalah yang belum dikuasai yaitu kemampuan utama dasar pada lingkaran ekonomi dalam hal ini memproduksi barang. Kesadaran itu dibuktikan dengan ketekunan belajar memproduksi powder minuman. Selama delapan bulan ia terus menggali informasi bahan baku bubuk minuman dari buku dan internet.

“Anak juga saya libatkan untuk mencoba rasa dari bubuk minuman yang saya buat. Saya percaya dengan penilaian mereka. Setelah enam bulan belajar meraik akhirnya mereka bilang enak. Saat itu juga saya siap memasarkan produk tersebut,” ujarnya.

Setelah menemukan racikan yang terbaik, Syakir memutuskan untuk memulai produksi bubuk minuman dengan serius. Kemudian ia mengerahkan seluruh tabungan sebesar Rp 100 juta sebagai modal awal. Ia juga mengakses pinjaman dari bank sebesar Rp 400 juta sebagai tambahan.

“Dengan modal Rp 400 juta saya berhasil membangun sentra produksi bubuk minuman ini pada awal tahun 2013 dan terus berkembang. Sekarang saya sudah mampu menjual sekitar lima ton bubuk minuman perbulan. Bahkan pendapatan kotor yang saya terima bisa sebesar Rp 300 juta per bulan,” tuturnya.

Syakir mengatakan untuk menjaring pasar ia kembali menjalin hubungan dengan teman-teman ketika menjalani usaha sebagai distributor. “Ternyata pengalaman memang modal utama yang sangat berharga. Untuk tahap awal penjualan saya menghubungi lagi teman-teman lagi dari distributor untuk jadi mitra usaha dalam hal ini penjualan,”ujarnya.

Syakir mengatakan saat ini bubuk minuman itu sudah dipasarkan melalui satu distributor tunggal di beberapa Ibu Kota Provinsi dalam negeri. Kemudian distributor itu menyebar lagi ke agen di kota-kota kecil dan kabupaten. Setelah itu bisa dibeli langsung oleh kafe dan restourant untuk diolah langsung menjadi minuman siap saji.

“Produksi saya sudah tersebar di kota-kota besar Indonesia terutama Bogor, Makassar, Serang, Depok, Surabaya, dan Tanggerang Selatan. Bahkan dalam jangka waktu dekat ini akan masuk ke Kinebalu di Malaysia. Mereka mau coba bubuk minuman yang saya buat dan bulan depan akan saya kirim sampel,” ujarnya.

Syakir mengatakan jenis bubuk minuman yang diproduksinya sudah memiliki 34 jenis varian rasa. “Tapi saya juga bisa membuat varian rasa sesuai pesanan. Mereka bisa pesan varian baru yang tidak ada di list kami minimal 50 kilo,” ujarnya.

Syakir mengatakan keunggulan bubuk minuman yang diproduksinya terletak pada kualitas. Maka bahan baku yang diperoleh juga harus didatangkan melalui impor yaitu dari Tiongkok. Sebab, bahan baku buatan dalam negeri belum mampu menghasilkan bubuk minuman yang terbaik.

“Produksi saya dijual seharga Rp 54 ribu per kilo gram untuk pembelian di bawah 500 kilo gram. Kompetitor ada yang jual sampai Rp 40 ribu per kilo. Tapi saya jamin produk mereka berkualitas rendah dan itu tidak layak dijual untuk konsumsi cafe dan restoran,” ujarnya.

Syakir bisa membuktikan kualitas itu melalui uji coba penyajian minuman. “Bubuk minuman yang tidak berkualitas butuh 40 gram per gelas jika disajikan dalam suhu dingin dan 20 gram per gelas jika disajikan dalam suhu panas, artinya ada cost lebih. Sedangkan produk saya bisa disajikan dalam suhu apapun dengan bubuk sebanyak 20 gram saja,” tuturnya.

Belajar Tekun

Muhammad Syakir mengatakan jatuh bangun dalam membangun usaha merupakan hal wajar. Bahkan pengalaman itu bisa jadi ilmu yang sangat berharga. Sebab, dari kegagalan orang bisa mengetahui masalah yang harus diperbaiki.

“Sepanjang hidup saya sudah ada lima jenis usah yang dijalankan sejak tahun 2000 mulai dari kelontong, perkebunan, warteg, dan minuman bubble. Banyak kegagalan yang saya terima dengan nilai rugi sampai ratusan juta Rupiah. Tapi semua kegagalan itu membuat saya berhasil membangun bisnis produksi bubuk minuman ,” katanya.

Syakir mengatakan seorang pengusaha tidak boleh bersikap putus asa. “Kalau sudah putus asa berarti sudah tidak ada mimpi lagi di kepala kita. Padahal, secara prinsip seorang pengusaha adalah orang yang penuh mimpi dan mau mewujudkannya,” ujarnya.

Syakir mengatakan punya mimpi memperbesar usaha Produksi Bubuk Minuman menjadi sebuah cafe atau restoran besar seperti J-Co dan Starbucks. Sebab ia sangat berharap bisa menjadi salah satu pembangkit perekonomian dalam negeri. Dengan usaha yang besar akan banyak tenaga kerja yang terserap.

“Saya berharap bisa menjadi salah satu orang Indonesia yang punya usaha besar. Karena masih sedikit pengusaha kita yang bisa menguasai pasar dalam negeri. Dengan usaha yang besar saya bia membuka lapangan tenaga kerja buat banyak orang,” tuturnya.

Syakir mengatakan mimpi terkahirnya bisa membuat usaha produk bubuk minuman ini menjadi fabrikasi yang sangat besar. “Acuan saya usaha ini bisa seperti Nestle. Tidak dipungkiri dalam industri makanan dan minuman mereka lah yang terbesar dan harus dijadikan contoh belajar. Sekarang saya sedang pelajari bagaimana mereka bisa mengelola bisnis sampai sebesar ini selain dari pengalaman panjang,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *